Cost Effectiveness Program Perbaikan Gizi

Program perbaikan gizi merupakan tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki status gizi dengan tujuan untuk meningkatkan gizi dan kesehatan agar kesejahteraan meningkat. Meskipun pada mulanya program perbaikan gizi dilakukan dengan alasan terbesar adalah karena alasan sosial atau kemanusiaan, tetapi saat ini program perbaikan gizi juga sudah dipandang sebagai suatu investasi, yaitu investasi untuk perbaikan mutu sumberdaya manusia (World Bank 2006). Oleh karena itu, maka berbagai perencanaan upaya perbaikan gizi saat ini juga harus mempertimbangkan aspek ekonomi agar diketahui sampai seberapa besar perbaikan gizi yang bisa dilakukan serta manfaat ekonomi yang dapat diperoleh agar program gizi dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

Besarnya biaya atau anggaran program perbaikan gizi dan kesehatan dihitung dari total penjumlahan biaya atau anggaran yang dikeluarkan untuk biaya langsung intervensi, biaya tenaga kesehatan, biaya infrastruktur kesehatan, dan biaya penguatan sistem. Dalam perencanaan yang dibuat oleh BAPPENAS, dari keempat komponen anggaran ini yang memiliki persentase terbesar adalah biaya atau anggaran yang dikeluarkan untuk biaya intervensi langsung. Biaya intervensi langsung yang terkait dengan gizi terbagi diantaranya adalah biaya yang dikeluarkan untuk bayi balita dan untuk ibu hamil.

Bentuk intervensi langsung pada bayi dan balita diantaranya adalah  intervensi langsung untuk penanganan BBLR, intervensi penanganan masalah Kurang Vitamin A bagi bayi dan balita (KVA) melalui kegiatan Manajemen Terpadu Balita Sehat (MTBS), serta intervensi penanganan masalah anemi bagi bayi dan balita melalui kegiatan MTBS. Bagi ibu hamil, bentuk intervensi langsung yang diberikan adalah pelayanan antenatal care yang meliputi pelacakan ibu hamil, pelayanan antenatal care sebanyak empat kali, imunisasi TT ibu hamil, pemberian tablet besi, penanganan ibu hamil kekurangan energi kronik, pemeriksaan Hb dan protein urin, penanganan malaria ibu hamil termasuk ibu yang dirawat, serta transportasi petugas ANC (outreach) dengan cakupan 10 persen dari target kunjungan pertama (BAPPENAS 2007).

Dengan beragamnya permasalahan gizi, maka akternatif penanganan masalah juga akan jadi beragam dan hal ini sudah tentu akan berdampak pada semakin besarnya anggaran yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, pemilihan strategi penanganan yang tepat menjadi sangat penting dan hal tersebut bukan hanya tepat dalam arti mampu mengatasi permasalahan tetapi juga efektif secara biaya.

Dalam penentuan cost effectiveness program gizi, indikator yang umum digunakan antara lain: banyaknya penderita kasus malnutrisi mendapat pelayanan, banyaknya kasus malnutrisi dapat ditangani, dan yang terakhir adalah besarnya nilai uang yang dikeluarkan untuk setiap kematian yang dicegah akibat malnutrisi.

PUSTAKA

[BAPPENAS] Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2007. Pembiayaan Pencapaian MDGs di Indonesia. Laporan Kajian. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. http://kgm.bappenas.go.id/index.php [15 Juni 2010]

World Bank. 2006. Repositioning Nutrition as Central to Development: A Strategy for Large Scale Action. World Bank, Washington DC

Pangan sebagai hak asasi

Pangan sebagai salah satu hak asasi manusia yang paling dasar telah diakui dalam berbagai peraturan hukum internasional dan nasional. Berbagai peraturan atau produk hukum yang mengakui hak tersebut diantaranya diatur dalam Komite Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, (Sidang ke 20, Jenewa, 26 April – 14 Mei 1999), pasal 11 (Hak atas pangan yang layak), sedangkan secara nasional diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan.

Pemerintah dan masyarakat harus terus diingatkan akan besarnya konsekuensi yang akan ditanggung bila masalah kelaparan ini diabaikan. Kelangkaan pangan dan kelaparan akan menyebabkan permasalahan gizi yang selanjutnya akan sangat mengurangi produktivitas masyarakat dan produktivitas nasional. Kelaparan gizi khususnya bagi anak-anak, amat mengancam pertumbuhan fisik, psikis, dan kecerdasan mereka. Anak-anak yang menderita kelaparan gizi dalam waktu lama terancam menjadi “generasi yang hilang” (the lost generation).

Permasalahan kelaparan bukan hanya disebabkan oleh kekurangan bahan makanan. Tapi disebabkan buruknya distribusi dan pemerataan, atau dengan kata lain karena rendahnya akses (fisik, ekonomi, dan sosial) masyarakat, terutama kelompok masyarakat miskin terhadap pangan.

Organisasi-organisasi pangan serta organisasi keuangan internasional harus bekerjasama secara lebih efektif, sesuai dengan keahliannya masing-masing, dalam penerapan hak atas pangan pada skala nasional, sesuai dengan wewenang individual mereka. Selain itu, lembaga-lembaga keuangan internasional, khususnya Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, harus memberi perhatian yang lebih besar terhadap hak atas pangan dalam kebijakan pinjaman dan perjanjian kredit mereka serta dalam cara-cara penyelesaian internasional dalam hal terjadinya krisis hutang dalam rangka tetap melindungi hak atas pangan dan gizi.

First post…(^_^)

My first post, here it is…(^_^)

Wow, baru tau niy, klo IPB menyediakan fasilitas blogging buat mahasiswa. Padahal saya sudah kuliah lebih dari setahun. Dengan adanya fasilitas blogging ini saya jadi semakin yakin kalau IPB memang berjuang untuk meningkatkan rankingnya di webomatrik. Bener ga ya ???

Yah, benar atau tidaknya, hal ini juga membuktikan bahwa IPB tidak main-main dalam upaya peningkatan fasilitas dan prestise. So, kita sebagai civitasnya juga sebaiknya bisa mengoptimalkan fasilitas ini …